Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Friday, October 24, 2008

Menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati

oleh: Wimar Witoelar

Pada saat tulisan ini dikirimkan, CNN baru mengeluarkan ringkasan hasil polling mengenai debat presiden Amerika Serikat. Sudah selesai semua debat calon presiden, tiga semuanya. Hasilnya dalam persentase. Untuk debat pertama, Obama-McCain 51-31. Debat kedua, 54-30. Debat ketiga, 58-31. Menurut CNN perkiraan electoral vote adalah 277 untuk Obama dan 174 untuk McCain dengan state (negara bagian) yang tossup (bisa kesana bisa kesini) sebanyak 87.

Amdaikata McCain menang semua tossup states, dia tetap kalah. Jadi dia harus menang semua tossup states seperti Florida, Ohio dan North Carolina. Tidak cukup itu, McCain harus merebut state yang diperkirakan mendukung Obama seperti Pennsylvania dan Virginia. Sebaliknya Obama cukup mempertahankan posisi. Karena itu McCain agresif, Obama defensif. Ibarat pertandingan sepakbola dimana Obama di depan 2-0 dengan sisa waktu 10 menit. McCain harus tetap bersemangat kampanye dan orang-orangnya harus tetap percaya diri, supaya pendukungnya tidak patah semangat dan tetap mau mengikuti Pemilu. Obama harus tetap bersemangat dan tidak menunjukkan rasa menang,supaya pendukungnya tetap semangat sampai memberikan suara pada tanggal 4 November. Kalau mereka merasa sudah menang, mungkin mereka malas memilih, karena merasa sudah pasti menang

Di kita, posisinya agak terbalik. Yang diatas angin adalah pihak elite, yang kalah adalah orang biasa. Kalau ikut rumus tadi, elite harusnya tenang dan orang biasa bersikap galak. Tapi disini malah elite makin berani menjalankan kolusi dan orang biasa makin menerima. Terbukti dalam kolusi Bakrie dengan SBY untuk menyelamatkan perusahaannya yang ambruk. Dalam kasus Lapindo, Bakrie tidak mau menunjukkan simpati kepada korban luapan lumpur. Sekarang Bakrie kena musibah pasar, dia minta simpati SBY. Minta dibantu dengan uang negara melalui BUMN. Orang biasa yang merasa elite berkuasa, merasa tidak punya jalan keluar. Mereka merasa terpaksa menerima keserakahan penguasa.

Padahal kita tidak harus menerima ketidak adilan. Kita bisa mengajak orang biasa memberikan pendapat. Kalau tidak, orang baik makin sedikit, dan orang jahat makin banyak. Apakah lupa munculnya Orde Baru? Tokoh angkatan 66 ikut membenarkan Suharto. Sekarang tokoh reformasi 98 ikut membenaran SBY. Dengan menyelamatkan Bakrie, SBY kelihatan Orde Baru sejati. Tujuannya hanya mempertahankan kekuasaan, yang dipakai untuk melindungi pengusaha yang mendukungnya. Segitiga SBY-Bakrie-Kalla menggelinding menuju Pilpres 2009.

Krisis ekonomi dunia saat ini timbul karena terlalu banyak andalan pada kelancaran kredit. Kredit murah membuat orang berhutang lebih besar dari kemampuan membayar. Ketika timbul masalah dalam pembayaran kredit, masalah itu diatasi dengan meminjam lebih banyak lagi, gali lubang tutup lubang. Makin banyak kita punya kenalan di Bank, makin mudah meminjam uang. Kalau kita kenal penguasa, lebih mudah lagi. Meminjam menjadi sangat mudah kalau kita kenal Presiden yang tidak jujur. Kreditor mana akan menolak kasih kredit kalau Presiden memberikan lampu hijau?

Setelah 11 September 2001, Bush menumbuhkan mesin ekonomi dengan melancarkan kredit properti. Semua berjalan mulus sampai satu saat kredit perumahan yang terlalu lancar di Amerika Serikat menghasilkan kelebihan bangunan, Harga properti jatuh. Nasabah kredit tidak bisa bayar kredit. Bank tertimpa kredit macet dan terpaksa minta pinjaman dari lembaga keuangan lain. Sekuritas yang dibangun diatas jaminan kredit anjlok nilainya. Perusahaan asuransi jatuh nilai assetnya. Perusahaan asuransi AIG jatuh dan diberi bailout USD 770 Milyar. Dengan cepat jepitan kredit merembes ke Eropah dan Asia.

Akhirnya kemacetan kredit internasional menimpa perusahaan di Indonesia yang punya hutang besar pada pihak asing. Tidak mampu bayar kredit, takut disita jaminan berupa saham perusahaan, akhirnya Bakrie bersembunyi dari kenyataan pasar dan meminta pemerintah mengatur BUMN ikut bantu.

Menko Sri Mulyani tidak setuju, sebab ini intervensi pasar. Lebih baik Bakrie jatuh daripada orang biasa ikut menderita. Pada krismon 97, banyak perusahaan jatuh dan pimpinannya dituntut. Krismon 2008 menyangkut satu perusahaan, dan pimpinannya adalah pembantu terdekat Presiden. Pinjaman macet Bakrie adalah untuk menjadi makin kaya lagi, bukan untuk kesejahteraan rakyat.

SBY tetap merasa berhutang budi pada Bakrie dan menolak keberatan Sri Mulyani. Beliau tidak tahu, kekuatannya dari suara rakyat, bukan dari penguasa yang memanfaatkannya. Setelah Sri Mulyani gagal mempertahankan sikapnya untuk melepas Bakrie ke pasar, Bakrie mulai menjual sahamnya diam-diam. Kepada pihak asing dilakukan dengan cepat dengan kerugian besar, karena takut kena sita jaminan. Penjualan saham kepada pihak Indonesia yang dikoordinasi Mentri BUMN dan Sekneg akan terjadi dengan lebih leluasa dan harga yang lebih manis untuk Bakrie.

Seorang pengamat cerdas mengeluhkan gagalnya reformasi 1998 dan mengatakan: "Tahun-tahun terbuang…" Bakrie bantu Kalla, Kalla bantu SBY, SBY balas budi dengan mengangkat Kalla sebagai Wakil Presiden dan Bakrie sebagai Menko Ekuin. Ketika Bakrie gagal mengurus ekonomi, dia tetap dipertahankan sebagai Menko Kesejahteraan Rakyat, walaupun tidak memiliki jiwa sosial sama sekali.

Balas budi SBY kini menggunakan dalih "mendukung swasta nasional". Ekonom dan politikus nasionalis mengatakan, Bakrie sebagai perusahaan nasional harus dibantu melawan ancaman cengkeraman asing. Orang lupa bahwa orang Indonesia yang menjahati rakyat perlu dikenakan sangsi sebelum kita mempersoalkan orang asing.
Bakrie adalah pengusaha nasional tapi bukan nasionalis. Kebesaran usahanya dan statusnya sebagai orang terkaya dicapai melalui kolusi politik dengan SBY dan kolusi pasar dengan perusahaan luar negeri.

Ketika krisis internasional menjatuhkan harga pasar Bakrie, dia lari minta perlindungan kepada Presiden. Sangat menyedihkan, bahwa orang-orang pandai di Indonesia membenarkan bantuan SBY kepada perusahaan yang antisosial ini. Sangat menyedihkan bahwa suara jernih Menko Sri Mulyani tidak didukung secara terbuka, hanya melalui bisik-bisik.

Pengamat cerdas itu melanjutkan dalam email: "Jelek-jelek, pemilihan Presiden di Amerika Serikat memberi kesempatan calon Presiden untuk berpendapat dan untuk menunjukan kemampuan. Disini ? Apa yang jadi penentu seseorang jadi Presiden: Intrik dan uang"

Betul sekali. Tapi kita tidak boleh berhenti dengan mengeluh dan putus asa. Marilah kita sebagai orang biasa belajar mengerti persoalan. Kalau sudah mengerti, marilah membentuk sikap. Kalau sudah punya sikap, marilah menyatakan sikap dan bersuara. "A bell is no bell until you ring it. A song is no song until you sing it."

Sunday, October 19, 2008

Memahami Eksistensi Golput Dalam Demokrasi

Oleh: GANDUNG ISMANTO

Tertarik dengan judul berita “Ketua MUI Serang Haramkan Golput” sebagaimana diberitakan harian ini akhir Juli lalu (31/07), serta pernyataan serupa dari KH. Hasyim Muzadi saat kunjungannya ke Serang pada waktu yang berdekatan. Tanpa bermaksud ”menghakimi” pernyataan kedua Ulama yang saya cintai tersebut, penulis merasa perlu untuk menghadirkan perspektif lain guna memenuhi tanggung jawab untuk melakukan check and ballances dalam kehidupan politik dan demokrasi kita.

Perspektif Sejarah

”Tiada asap tanpa api”, demikian kira-kira pepatah yang tepat untuk memahami eksistensi golput. Golput tidak terjadi secara serta merta, tanpa ada penyebabnya. Inilah fakta empiris yang harusnya kita rujuk untuk melihat fenomena golput itu secara komprehensif, tanpa terjebak pada sikap salah-menyalahkan, apalagi haram-mengharamkan. Betapapun benar bahwa tindakan golput itu cenderung mubazir karena tidak akan menghasilkan perubahan apapun, namun eksistensinya yang kontekstual seiring dengan dinamika perjalanan sejarah anak bangsa itu tidak dapat dan tidak boleh digeneralisir sebagai salah keseluruhannya.

Golput telah ada sepanjang sejarah politik bangsa-bangsa, kendati dengan alasan dan konteks yang berbeda-beda. Dan karena perbedaan konteks inilah maka masyarakat harus jeli dan obyektif mensikapi fenomena golput, khususnya hal-hal yang melatarbelakangi kemunculan golput di tiap periode Pemilu. Pada Pemilu 1955, di tengah maraknya kehidupan kepartaian di Indonesia, golput muncul karena didorong oleh perseteruan yang cenderung saling intimidatif antara kaum unitaris dan kaum federalis.

Sementara golput pada tahun 80-an hingga 90-an, lebih dilatarbelakangi karena adanya “paksaan” yang sistematis untuk memilih Golkar sebagai partai pemerintah. Akhirnya gerakan golput menjadi pilihan bagi orang-orang yang takut memilih partai lain di luar Golkar. Golput pada era ini lebih dimotivasi oleh semangat perlawanan terhadap rejim otoriter, yang tidak memberi ruang gerak bagi masyarakat untuk berekspresi, berpolitik dan bersikap beda. Dan semangat ini tetap mewarnai gerakan golput setidaknya hingga akhir era 90-an. Sedangkan, golput pada era pasca Orba cenderung bukan lagi disemangati oleh perlawanan terhadap rejim yang berkuasa, melainkan oleh kekecewaan yang mendalam terhadap sikap para pemimpin pemerintahan, para elite politik dan partai yang dinilai mengkhianati amanat penderitaan rakyat. Beberapa kasus “pembangkangan” dan eksodus kader partai tertentu ke partai lain atau membentuk partai baru – yang pada Pemilu 1999 mencapai 48 partai - dapat menjadi indikasi hal tersebut.

Demikian pula golput pada Pemilu 2004 yang secara umum lebih dipicu oleh kekecewaan terhadap elit-elit partainya serta pada pemerintah yang dianggap tidak mampu memperbaiki nasib rakyatnya. Di samping itu, terjadinya polarisasi kepemimpinan politik dalam masyarakat pun mendorong terjadinya golput atas dasar simbiosis antara patron dan client-nya manakala sang patron tidak terakomodasi dalam struktur politik tertentu. Di samping itu, secara empirik terdapat pula fakta bahwa sebagian masyarakat kita sangat loyal pada partainya, hingga sukar beralih ke partai lain.

Kekecewaan kepada pemimpin dan elite partai tidak serta merta membuat mereka pindah partai, umumnya sekedar menunda memilih sembari menunggu munculnya figur-figur yang mereka sukai, dan kalaupun pindah partai suatu saat dapat pulang kandang karena fanatisme yang bersifat laten. Budaya patron-client yang masih sangat kuat serta tipologi budaya politik karena ideologi “tidak memungkinkan” orang dengan mudah pindah parpol. Rasanya tidak sreg bagi orang PDI-P untuk memilih pindah ke Golkar. Bahkan di antara partai islam sekalipun, bagi orang PKB secara psikologis bukan persoalan mudah mau menyeberang ke PAN atau PPP. Begitu pula sebaliknya, sangat sulit orang yang darahnya PAN beralih ke PKB. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Di tengah fenomena inilah maka – di samping golput – muncul pula fenomena makin nyata dan besarnya jumlah swinging voters, yang beberapa diantaranya cenderung kritis, non-ideologis, ataupun pragmatis. Bila sampai saatnya mereka tidak menemukan pilihan, mereka cenderung menjadi golput oleh sebab ketiadaan wadah (parpol) dan atau figur yang dapat dipercayainya untuk membawa perubahan.
Fenomena di atas tentu menjelaskan perilaku pemilih dalam konteks Parpol, yang tentu sangat berbeda dengan Pilkada yang lebih merupakan kontestasi figur daripada parpol. Itulah sebabnya kenapa pilihan pada parpol tertentu hampir selalu tidak berkorelasi dengan pilihan pada figur calon kepala daerah tertentu. Dan karena fakta inilah maka secara empiris golput dalam Pilkada seringkali unpredictable karena menyangkut apresiasi subyektif pemilih terhadap calon yang dikenal baik track record-nya.

Perspektif Teori

Dalam teori politik, golput (non-voting behaviour) dipahami sebagai bentuk partisipasi politik warga negara yang muncul karena beragam latar belakang. Memilih adalah hak (right) politik warga negara yang by its nature mengandung arti legal or moral entitlement (authority to act), yang mengandung kebebasan pemilik hak itu untuk menggunakan atau tidak menggunakannya. Bukan kewajiban (duty) yang mengandung makna moral or legal obligation. Karena essensi filosofis inilah maka demokrasi – yang bersendi kedaulatan rakyat, dan yang setiap orang legally equal hak-hak politiknya – memberi ruang bagi pilihan untuk golput secara setara dengan pilihan untuk memilih itu.

Dan karena demokrasi meng-agungkan vox populii sebagai vox Dei maka menjadi golput diberi ruang dalam demokrasi, guna meluruskan demokrasi, meluruskan politik dan pemerintahan yang korup melalui gerakan moral. Ya, hanya gerakan moral, karena hanya itulah yang mampu dilakukan rakyat kebanyakan.

Dengan demikian, harusnya para pemimpin membuka mata hatinya manakala menemukan kenyataan golput, berapapun besarnya. Karena golput mengindikasikan adanya beberapa hal berikut ini: (1) perlawanan terhadap rejim; (2) ketidakpercayaan terhadap sistem dan calon yang ada; (3) kekecewaan yang besar terhadap pemerintah dan sistem; serta (4) putusnya harapan rakyat akan lahirnya sistem dan kepemimpinan yang mampu mengayomi mereka. Dan terkadang, hanya dengan cara demikian kemapanan demokrasi yang mengandalkan berfungsinya check and ballances itu dapat tercipta, kendati tidak selalu demikian adanya.

Dalam konteks sosiologi politik, dijelaskan empat sebab sikap golput, yaitu: (1) apatisme politik, yaitu sikap tidak berminat atau tidak menaruh perhatian terhadap orang, situasi, atau gejala-gejala umum yang berkait dengan persoalan politik dan kelembagaannya; (2) sinisme politik merupakan sikap yang dimiliki sebagai penghayatan atas tindakan dan motif orang atau lembaga lain dengan perasaan curiga. Orang-orang sinis selalu menganggap politik itu kotor, bahwa semua politisi tak dapat dipercaya, bahwa rakyat selalu menjadi korban manipulasi partai dan penguasa, dan bahwa setiap rejim selalu dipimpin orang tak amanah, dsb., sehingga mereka cenderung hopeless; (3) alienasi merupakan perasaan keterasingan dari kehidupan politik dan pemerintahan, sehingga selalu memandang segenap peraturan yang ada sebagai tidak adil dan menguntungkan penguasa; dan (4) anomi yaitu perasaan kehilangan nilai dan orientasi hidup, sehingga tak bermotivasi untuk mengambil tindakan yang berarti karena hilangnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga politik yang ada.

Tanpa bermaksud menafsirkan, penulis meyakini bahwa kisah yang diceritakan dalam Surah Al-Kahfi ayat 9-26, merupakan manifestasi dari keimanan dan kepasrahan total kepada Allah atas kesadaran akan ketidakmampuannya untuk melawan, mengubah, atau sekedar untuk hidup bersama sistem yang kufur dan dibawah pemerintahan yang korup dan dzalim. Dan di tengah kesadaran itu, mereka memilih ‘golput’ dengan cara menghindari dan menjauhi sistem dan kehidupan yang kufur itu.

Tak pelak lagi, kendati dengan konteks yang berbeda, menjadi golput itu sangat di-halal-kan, kendati tetap saja membutuhkan pemikiran mendalam guna dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan legal. Dengan kata lain, golput tidak boleh dilakukan karena dendam, kecewa, maupun alasan-alasan personal lainnya sehingga menjadi anarchy. Golput hanya boleh dilakukan di tengah ketiadaan celah untuk melakukan perubahan yang lebih baik, termasuk pula ketiadaan pilihan yang lebih baik kendati diantara alternatif pilihan yang buruk.

Dalam jangka pendek tindakan golput memang sia-sia karena tidak mengubah apapun, namun dalam jangka panjang justru menjadi bagian penting dari pendidikan politik menuju ke tingkat kematangan berpolitik dan berdemokrasi (maturity). Golput adalah salah satu instrumen gerakan moral rakyat yang dilakukan dengan cara mengekspresikan ekspresinya dengan tidak berekspresi (silent movement). Dan harusnya, tanpa harus menunggu menjadi silent majority, pemimpin dan elite politik harusnya mampu membuka mata, hati, dan telinganya untuk berintrospeksi guna memahami gejala public distrust dan mass disobedience ini guna lebih mengabdikan dirinya bagi sebesar-besar kemaslahatan rakyat. Kalaupun ini tidak terjadi, yakinlah bahwa golput tidak pernah menjadi sia-sia di mata Sang Maha Penguasa. (*)

Penulis, Dosen FISIK Untirta yang pemerhati sosial politik

Friday, October 17, 2008

22.663 Sarjana DIY Nganggur

Sedikitnya 21.000 lulusan S1 dan 2.663 sarjana S2 dari perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS) di DIY menganggur. Semakin banyaknya pengangguran tersebut dinilai sebagai bentuk kegagalan dunia pendidikan dalam menghasilkan kualitas lulusan.
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), Ari Sudjito, kepada wartawan, Minggu (22/6) mengatakan, banyaknya pengangguran di DIY karena tidak adanya sinergi positif antara sistem pendidikan dan lapangan kerja.

“PTN dan PTS punya orientasi sendiri, sementara dunia kerja punya orientasi sendiri makanya banyak yang menganggur. Ke depannya harus ada pembenahan di PTN dan PTS jika tidak ingin melahirkan pengangguran,” tuturnya.

Selain belum adanya sinergi positif antara perguruan tinggi dengan dunia kerja, menurut Ari yang juga Direktur Institute for Research and Empowernment (IRE), meningkatnya standar kemampuan yang dituntut oleh sektor swasta kepada calon tenaga kerja juga menjadi penyebab bertambahnya pengangguran.

Menanggapi makin maraknya diselenggarakan Job Fair sebagai upaya Pemerintah Provinsi DIY untuk mengurangi pengangguran,menurutnya tidak sepenuhnya berhasil. Hal itu dikarenakan belum adanya sinergi antara pemerintah setempat dengan pihak swasta. “Intinya jika tidak ada sinergi yang baik antara Pemerintah, Perguruan Tinggi dan pengguna tenaga kerja dalam hal ini perusahaan. Tentu pengangguran akan tetap ada,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Tenaga Kerja DIY, Indro Budiyono mengungkapkan, Job Fair sangat membantu para lulusan PTS dan PTN untuk mencari pekerjaan. Bahkan menurutnya dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengadakan Job Fair untuk membantu masyarakat dalam mencari kerja.

sumber: http://harianjoglosemar.com/

FAO: Angka Kemiskinan di Seluruh Dunia Melonjak

Turunnya harga pangan uniknya malah diimbangi dengan angka penderita kelaparan di seluruh dunia yang melambung tinggi. Laporan FAO sekali lagi membuktikan, jurang antara negara industri dan dunia ketiga semakin melebar.


Meskipun FAO kini hanya mengeluarkan laporan pangan dunia setiap dua tahun sekali, kesimpulan yang didapatkan tidak banyak berubah: semakin banyak orang yang kelaparan.


Menurut Alexander Müller, Wakil Dirjen Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, sejak tahun 2005 sampai awal 2007, jumlah orang yang kelaparan bertambah 75 juta. Artinya, di seluruh dunia kini terdapat lebih dari 925 juta orang yang kelaparan.


Panen berlimpah, kemiskinan merajalela
"Kami khawatir, tahun-tahun mendatang kami masih harus menyampaikan laporan dengan jumlah orang kelaparan lapar yang lebih banyak lagi," imbuhnya.
Panen yang berlimpah justru diimbangi dengan pesatnya kenaikan angka kemiskinanBildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Panen yang berlimpah justru diimbangi dengan pesatnya kenaikan angka kemiskinan
Sekalipun harga bahan pangan turun kembali, sebagaimana terjadi saat ini, tidak otomatis berarti kaum miskin punya uang untuk membeli makanan. Laporan tahun ini menunjukkan angka rekor panen. Tapi hasil berlimpah hanya terjadi di negara-negara kaya. Di negara-negara miskin, sektor pertanian menderita akibat perubahan iklim.


Maka tak heran, jika FAO menuntut harus segera dikembangkan konsep yang merangsang produksi untuk setiap wilayah di Afrika dan pada saat bersamaan melindungi dari dampak pemanasan global .


"Jika sekarang kita tidak menyesuaikan agrikultur di Afrika dengan ancaman perubahan iklim, maka hasil tahun depan bisa turun 20 - 30%. Itu artinya kelaparan akan tumbuh di kawasan yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk paling tinggi ini," tandas Müller.


Perlindungan Iklim Vs. Perang Melawan Kelaparan?
Perang melawan kelaparan semakin erat dihubungkan dengan perang melawan perubahan iklim. Negara-negara industri harus mengurangi emisi gas rumah kaca, demikian pernyataan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia.
Seorang bocah perempuan menyusui adiknya. Angka kemiskinan di Pakistan juga melonjakBildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Seorang bocah perempuan menyusui adiknya. Angka kemiskinan di Pakistan juga melonjak
"Bioethanol Brasil sangat positif juga dalam kaitannya dengan iklim. Orang bisa menghindari banyak sekali emisi karbondioksida dan Brasil mengajukan program anti kelaparan yang sangat jelas. Artinya, Brasil bersungguh-sungguh memerangi kelaparan dan kemiskinan dan sebagai tambahan memproduksi bahan bakan nabati. Ini bisa diikuti negara-negara lain. Melawan kemiskinan diprioritaskan, sementara produksi energi nabati adalah tambahan. Setelahnya energi nabati bisa berkontribusi untuk menghindari ambruknya iklim," ujar Müller.


Menghabiskan miliaran euro untuk mendanai proyek bioethanol di AS dan UE guna membuatnya mampu bersaing di pasaran dunia, adalah tindakan keliru, kata Alexander Müller, Wakil Dirjen FAO. Kebutuhan energi bertambah dua kali lipat dalam kurun waktu 30 tahun. Tapi, hanya sedikit yang berhasil mengembangkan bahan bakar yang ramah iklim, tanpa mengorbankan orang miskin dan kelaparan.


from: http://www.dw-world.de/

Masyarakat Jenuh terhadap Partai Politik

Perilaku kader partai di parlemen dan pemerintahan yang cenderung korup membuat masyarakat semakin jenuh terhadap partai politik yang saat ini jumlahnya justru bertambah banyak.

Kejenuhan tersebut terlihat dari semakin rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam berbagai pemilihan kepala daerah maupun minimnya masukan terhadap pengumuman Daftar Calon Sementara.


Demikian diutarakan anggota Komisi II DPR, Agus Condro, saat menjadi pembicara dalam unjuk bincang bertajuk ”Korupsi Berjemaah DPR RI” di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (16/10). Hadir pula sebagai pembicara, guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UKSW, Kutut Suwondo.


Menurut Agus, partai lama yang muncul dengan idealisme saat reformasi kini tidak bisa mewujudkan amanat reformasi untuk kesejahteraan rakyat. Bahkan, saat ini hampir tidak ada partai yang benar-benar bersih di DPR sehingga tidak ada yang bisa mengontrol partai-partai lain untuk menjauhkan diri dari korupsi.


”Yang agak bersih memang ada, tetapi juga tidak bersih-bersih amat. Jadi tak ada yang kokoh dan bisa mengontrol yang lain. Kalau saja ada satu partai yang benar-benar bersih,” katanya.


Menurut Kutut Suwondo, kejenuhan masyarakat terhadap partai politik ini akan berimbas pada rendahnya partisipasi politik pada pemilihan anggota legislatif April 2009.


Kutut Suwondo memperkirakan pemilih yang golput atau tidak menggunakan hak suaranya dan kertas suara tidak sah bisa mencapai 50 persen dari jumlah pemilih.


”Rendahnya suara yang sah ini akan berimbas pada legitimasi produk hukum yang dihasilkan anggota DPRD yang terpilih,” katanya.


sumber: http://cetak.kompas.com/

Thursday, July 10, 2008

Manusia Indonesia Dikuasai Budaya Konflik

Pikiran orang Indonesia dikuasi oleh budaya konflik.
Kita lebih tahu cara, teknik, dan strategi berkonflik ketimbang cara
dan strategi berkolaborasi atau bekerja sama dengan pihak lain.

Demikian dinyatakan Prudensius Maring menjawab pertanyaan, kenapa
Indonesia terus dilanda konflik, yang diajukan salah seorang
penyanggah dalam sidang terbuka promosi doktor antropologi di Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Di ranah akademis, ilmuwan sosial lebih banyak melakukan kajian-kajian
tentang konflik ketimbang kajian-kajian tentang kolaborasi. Karenanya,
para akademisi juga ikut bertanggung jawab atas tidak munculnya aspek
kolaborasi dalam berbagai konflik sering disertai kekerasan.

Untuk mewujudkan Indonesia yang damai, kita perlu lebih kembangkan
pikiran tentang kolaborasi, kata Prudensius. Disertasinya berjudul
Hubungan Kekuasaan: Konflik, Perlawanan, dan Kolaborasi dalam
Penguasaan Hutan di Egon, Flores.

Menggunakan teori kekuasaan Michael Foucault, dalam penelitiannya,
Maring menemukan, di kawasan hutan Gunung Egon bukan hanya terjadi
konflik antara pemerintah dan masyarakat setempat, tetapi masyarakat
adat juga sering berkolaborasi dengan pemerintah agar dapat
memanfaatkan secara optimal lahan dan sumber daya lainnya.

Kehadiran badan nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM)
ternyata tidak selalu disambut baik masyarakat. LSM yang hidup dari
dana luar negeri dianggap mewakili kepentingan asing, tutur Maring
yang menyusun disertasi dengan promotor Prof Dr Achmad Fedyani
Saifuddin. Maring lulus dengan predikat summa cum laude.

Di FISIP UI, kemarin, juga berlangsung sidang promosi doktor Djainal
Abidin S, peneliti dan koordinator pelatihan di Lembaga Demografi
Fakultas Ekonomi UI dengan disertasi berjudul Modal Sosial dan
Dinamika Usaha Mikro Kecil (UMK): Suatu Studi Sosiologi Ekonomi di
Perkampungan Industri Kecil Jakarta.

taken from: KOMPAS

Friday, May 16, 2008

HARD NEWS: Mantan anggota DPR itu tewas ber-Moge

Sophan Sophiaan, tokoh politik yang juga bintang film Indonesia meninggal akibat kecelakaan sepeda motor di Ngawi, Jawa Tengah, Sabtu (17/5) pagi. Saat ini jenazah Sophan masih ada di Rumah Sakit Sragen, Jateng. Rencananya jenazah akan segera diterbangkan ke rumah duka di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.

Lelaki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan pada 26 April 1944 ini adalah salah satu aktor senior, sutradara dan politikus Indonesia. Ayahnya, Manai Sophiaan adalah politikus terkemuka Indonesia yang pernah menjadi duta besar di Rusia. Sophan menikah dengan aktris senior, Widyawati. Setelah banyak berkiprah di dunia film, Sophan terjun ke panggung politik dan pernah aktif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Dalam kiprahnya di dunia politik, Sophan pernah menjadi anggota DPR dan MPR. Saat ini ia bergabung dalam mendirikan partai baru bernama Partai Demokrasi Pembaruan bersama Laksamana Sukardi, Arifin Panigoro, Roy BB Janis, Sukowaluyo Mintohardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, Tjiandra Wijaya, Postdam Hutasoit, dan RO Tambunan.

courtesy: liputan6.com

Thursday, May 15, 2008

HARD ISSUE: Ironi Klasik Bangsa ini

Sudah dengar belum? Para Pejabat VVIP (Very-Very Important Person), sejumlah Menteri dan Petinggi TNI dan Kepolisian, termasuk sejumlah purnawirawan Jendral, ber-asyik ria dengan jalan-jalan pakai Motor Gede (MoGe) rata-rata Merk HD, mulai start Jakarta menuju Surabaya, dan kota-kota lainnya.
Rombongan MoGe Pejabat VVIP ini setidaknya ada 300 buah MoGe...Buuuussyyeeettt... mejeng di kota-kota yang diliwatinya, dan pastilah menyebabkan kemacetan yang parah juga. (Mana ada sih pejabat yang nggak nimbulkan kemacetan?).

Bayangkan, panjang Konvoi MoGe Penggedhe ini bisa lebih dari 3 Kilometer....Buuuussyyeeettt lagi... akan lewat TOL.
Sangat memprihatinkan...memang, disaat rencana kenaikan BBM, yang kata Kwik Kian Gie adalah Pembohongan Publik, ehh...enak saja para Petinggi Negeri ini begitu santai mejeng dengan berpawai ria pakai MoGe yang harganya juga guueeddee juga...(semua orang juga tau). Meskipun dengan alasan klise, secara simbolis menyerahkan bantuan sembako, tetap saja menurut saya itu sangat melukai HATI RAKYAT Indonesia ini.

Sungguh keterlaluan, menurut saya, kok sepertinya para orang kaya semacam pejabat VVIP ini sudah tidak memiliki hati nurani. Bagaimana mereka ini bisa membawa bangsa menuju kesejahteraan sosial? Kalau sikap mereka seperti begini terus? Senengannya hura-hura, dengan berbagai macam dalih untuk kepentingan rakyat jelata! Dan, hura-hura yang sangat didukung oleh semua pejabat di negeri ini...apalagi selalu pakai pengawalan ketat lagi....Buuuussyyeeettt...terus dah...

Yaa, saya juga hanya rakyat jelata, mau ngapain lagi sih. Mendingan belajar ikhlas terus menjadi bagian dari bangsa ini...yang penting jadi rakyat harus ikhlas! tanya kenapa?

Sesuatu Tidak Selalu Kelihatan Sebagaimana Adanya

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya.

Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement. Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yg lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak. Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap.

Ketika malaikat yg lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu, malaikat yg lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya".

Malam berikutnya, kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah. Setelah membagi sedikit makanan yang ia punyai, petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya, malaikat menemukan bahwa petani itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka terbaring mati.

Malaikat yg lebih muda merasa geram. Ia bertanya kepada malaikat yg lebih tua, "Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yg pertama memiliki segalanya, tapi engkau menolong menambalkan dindingnya yg retak. Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati ?"

Malaikat yg lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya." "Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di lubang dlm dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu."

"Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat maut tidak jadi mengambil istrinya. Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."

Kadang2 itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi.

Jika kita punya iman, kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita.

Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba.

taken from: M Yunus

Thursday, May 8, 2008

Pemerintah, BBM, Rakyat Dan Kriminalitas

Pada Wikipedia BBM adalah Bahan bakar minyak jenis bahan bakar. Ada beberapa jenis BBM yang dikenal di Indonesia, di antaranya adalah: Minyak tanah rumah tangga, Minyak tanah industri, Pertamax, Pertamax plus, Premium, Solar transportasi, Solar industri, Minyak diesel, Minyak bakar.

Dan siapalah rakyat miskin itu? Artikel Harian Kompas (19/03/2005) yang ditulis oleh Irwanto menyebutkan tiga kategori rakyat miskin adalah mereka yang terdefinisikan marginal secara sosial, politik dan ekonomi, dan wilayah/antropologis. Kategori kemiskinan juga dapat dilihat dari pendapatan ekuivalen perkapita, kematian bayi dan ibu, buta huruf, sanitasi, kesehatan rumah tangga, perumahan hingga gizi balita yang buruk. Namun salah satu komponen yang kemudian terdefinisikan kelompok marginal yang masuk ke semua lini tersebut adalah perempuan. Jika mengacu pada definisi agama pada ranah fikih, yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang disebut kaum mustadh'afin (yaitu kelompok orang-orang tertindas) di antaranya adalah fakir dan miskin. Asghar Ali Enginer memasukkan perempuan dalam kelompok orang-orang yang tertindas. Sedangkan kelompok miskin dibedakan menjadi dua kelompok yaitu miskin adalah orang yang mempunyai pekerjaan tetapi tidak mencukupi kebutuhan hidup dan keluarganya, kedua kelompok fakir merupakan orang yang tidak mempunyai harta dan pekerjaan atau penghasilan tetap. Kedua kelompok ini merupakan kelompok yang berhak menerima zakat, dan tidak wajib melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.

Di Indonesia, harga BBM sering mengalami kenaikan disebabkan alasan pemerintah yang ingin mengurangi subsidi. Tujuan dari pengurangan tersebut dikatakan adalah agar dana yang sebelumnya digunakan untuk subsidi dapat dialihkan untuk hal-hal lain seperti pendidikan dan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kenaikan tersebut sering memicu terjadinya kenaikan pada harga barang-barang lainnya seperti barang konsumen, sembako dan bisa juga tarif listrik sehingga selalu ditentang Rakyat atau Masyarakat

Saat ini pasar minyak di dunia sedang dalam harga yang melambung, Indonesia yang katanya Negara Penghasil minyak ternyata adalah negara pengeskpor minyak. Kenapa Rakyat indonesia seperti tikus mati di lumbung padi. karena Minyak Indonesia Sebagian Besar di kuasai oleh pihak asing, dan pembagian keuntungan saat ini yang sangat tidak adil, dimana hanya sedikit pendapatan yang diterima oleh negera, jadi keadaan kenaikan harga minyak tidak bisa dinikmati oleh Rakyat Indonesia. Begitu bodohkah Pemerintah Indonesia, atau karena adanya uang yang masuk kepundi orang-orang yang tidak bertanggung jawab?

Kenaikan BBM yang akan terjadi pemerintah menggunakan dasar mengurangi subsidi BBM untuk rakyat miskin, Jika logika pemerintah menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dengan mengurangi subsidi adalah untuk kebaikan rakyat jangka panjang tetapi sambil mencekik rakyat dengan cara pelan-pelan setiap harinya, apakah itu bukan bentuk kezhaliman? Hal lain lagi yang dijadikan sebagai argumen pengurangan subsidi BBM adalah karena setiap harinya negara harus kehilangan sekian trilyun anggaran subsidi BBM yang dinikmati oleh mereka yang tidak layak disubsidi.

Memang rakyat sedang menderita suatu penyakit kompleks yang akut dan harus segera diobati baik oleh mereka sendiri maupun negara. Mulai dari penyakit mental hingga fisik seperti kemiskinan, kobodohan, premanisme dan sebagainya. Masalahnya, obat yang diberikan adalah obat yang selalu sama dan justru menambah penyakit bertambah kompleks, bahkan kiat akut, bukan suatu penyembuhan yang tahapannya terlihat dari waktu-ke waktu.

Dalam Wacana pemerintah mengatakan kita harus berhemat. Dan saya kembali bertanya siapa yang harus berhemat. Rakyatkah, atau Aparat pemerintahan? sebuah nalar sederhana yang mungkin Bisa menjelaskan keadaan rakyat, rakyat miskin tadinya yang naik bis, sekarang jadi jalan kaki.. trus dijalan ketabrak metromini/busway yg semakin bertambah ngebut karena nguber setoran (soalnye BBM nya naik) trus mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG atau Tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik trus tidak bisa beli lagi --> RAKYAT MISKIN BERKURANG atau Tadinya rakyat miskin makan sehari sekali.. trus jadi makan sekali buat 3 hari (karena daya belinya turun).. lama2 mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG. seperti inikah penghematan yang dimaksud?

Saat ini Kita Bisa menyaksikan Mobil-mobil mewah dari para Aparat, Dari Legislatif, Eksekutif, Yudikatif dengan keluaran terbaru, tidakkah penggunaan BBM mereka gratis dari negara? dari uang rakyat? kenapa hal ini tidak di hemat? penggunaan Aturan pengaman Orang penting terdiri dari konvoi yang beriringan telah memboroskan BBM tidak kah ini satu faktor yang bisa dihemat? atau adanya Asset-aset yang disalah gunakan, Fasilitas Yang Lux Untuk para pejabat, Hutang Pengusaha Nakal, Bocornya pendapatan Negara Dari Pajak, Non Pajak,kebocoran belanja rutin, yang selama ini banyak dikorupsi,Pengelolaan negara yang efektif dan Effisien, mengurangi pembayaran utang dengan cara meminta pemotongan jumlah utang. Tidak kah itu merupakan sumber keuangan untuk bisa disalurkan kepada rakyat dan bisa dimasukan dalam pendapatan dalam APBN.

Mencoba menelaah perkataan Jusuf Kala bahwa Subsidi hanya dinikmati oleh orang kaya?, BENARKAH SUBSIDI BBM HANYA DINIKMATI ORANG KAYA, YAKNI ORANG-ORANG YANG MEMAKAI BENSIN, SOLAR DAN LISTRIK LEBIH BANYAK? jawabnya adalah TIDAK BENAR. Baik orang kaya maupun orang miskin menikmati subsidi BBM. Subsidi BBM adalah subsidi tidak langsung. Artinya bukan bensin, solar atau minyak tanah itu sendiri yang mempunyai arti. Subsidi BBM menopang daya beli masyarakat. Jika subsidi dicabut, daya beli masyarakat akan jatuh. Bahan bakar merupakan komponen setiap barang dan jasa yang kita konsumsi (pangan, sandang, perumahan, obat-obatan, layanan pendidikan). Jika subsidi dihapus, maka harga pangan, sandang, perumahan, obat dan layanan pendidikan meningkat drastis. Orang miskin akan semakin sulit menjangkau kebutuhan pokok dan layanan dasar yang harganya melambung. Dampak kenaikan harga lebih besar bagi orang miskin ketimbang bagi orang kaya.

Kalau selama ini kita selalu dikelabui dengan wacana Dalam ranah permainan kata-kata, adalah suatu hal yang niscaya untuk membuktikan suatu perkataan; termasuk wacana menaikkan harga BBM, pengurangan subsidi ataupun dana kompensasi. Namun yang menjadi persoalan, Wacana ini bukanlah wacana baru yang belum pernah teruji perannya dalam menyengsarakan rakyat dan kegagalannya dalam teori mekanisme distribusi. Kebutuhan BBM adalah persoalan keseharian yang menyangkut seluruh komponen kehidupan masyarakat. Logika menaikkan harga BBM sudah pasti berdampak pada penaikan biaya seluruh aktivitas ekonomi dan produknya yang harus ditanggung setiap hari. Pdahal, bukan pada tempatnya pemerintah menggunakan logika minum jamu, sebagai kiasan legitimasi kepanikannya mengurus negara. Yang menjadi persoalan adalah apa dan siapa yang sakit, mengapa rakyatnya yang disuruh minum jamu sekaligus membayarnya!

Orang ekonomi Atas memang mengkonsumsi minyak dan energi lebih banyak karena mereka punya rumah lebih besar (listrik lebih banyak, untuk penerangan, kulkas dan AC) dan punya mobil yang haus bensin. Itu memang tidak adil. Harus ada cara untuk mengoreksi ketidakadilan itu. Pencabutan subsidi bukan cara satu-satunya. Kita tak perlu membakar rumah untuk menangkap tikus.

Pemerintah, seperti biasa, dengan dalih kenaikan BBM, pemerintah akan memberi Bantuan Tunai Bersubsidi Sebesar Rp 100.000/bulan seperti dulu, Apakah ini uang sogok untuk rakyat yang nilai tidak seberapa, apa dengan BLT Bisa Membantu Rakyat? Kompensasi juga sangat tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada. Setiap keluarga miskin (dengan standar BPS) mendapatkan Rp.100.000,00/bulan dengan asumsi perkeluarga dipukul rata terdiri dari 4 orang. Berarti setiap orang mendapatkan Rp.25.000,00/bulan alias Rp.833,00/hari (sebulan= 30 hari). Pada awal 2005, ketika subsidi masih penuh, rakyat perorang mendapat subsidi Rp.2000,00/hari dan kompensasi hanya dapat Rp.833,00/hari. Artinya dengan kenaikan BBM sekarang pemerintah menarik Rp.1.300,00 dari orang-orang miskin perhari perorang. Coba Bandingkan Pendapatan PAra Pejabat, Uang 1.300 hanya mungkin dipakai Parkir Oleh Para orang yang dengan Bangga mengaku dirinya ELITE. Sedang Bagi kebanyakan Rakyat Indonesia ELIT adalah Keadaan dimana Ekonomi Meraka Memang SUlit.

Apa lagi alasan Pemerintah untuk menaikan BBM itu, harga BBM indonesia paling murah? ternyata tidak, Masih ada negara yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Indonesia. Contohnya Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan Venezuela. Jika dikonversikan ke rupiah, maka harga minyak tanah di Venezuela sekitar Rp.350,00. Atau BBM murah mengundang Investasi? PERNYATAAN ITU MENYESATKAN. Justru dengan BBM murah, biaya produksi akan murah. Hal itulah yang akan mengundang investasi luar negeri. Pernyataan itu hanya benar untuk para investor minyak. Kenaikan harga BBM merupakan prakondisi liberalisasi ekonomi sektor migas, terutama sektor hilir. Puluhan perusahaan minyak asing sudah antri menunggu untuk bisnis migas sektor hilir. Mereka akan mendirikan SPBU-SPBU di seluruh Indonesia. Selain itu, merupakan rahasia umum bahwasanya Wakil Presiden dan Menko Ekonomi merupakan raja-raja bisnis minyak di Indonesia.

Suatu Hal Yang pasti Dampak kenaikan bahan bakar minyak dengan adanya pencabutan subsidi akan membuat tingkat pengeluaran masyarakat menjadi membengkak. Efek berikutnya, kehidupan ekonomi masyarakat kecil menengah makin tertekan. uruh dan rakyat miskin merupakan kelompok masyarakat yang sangat sensitif terhadap dampak kenaikan BBM. Para buruh, dalam memenuhi kehidupannya hanya bergantung pada upah minimal tetap yang diterima. Apabila kenaikan BBM ditetapkan, sedangkan upah tidak naik, kelompok ini sangat rentan menjadi semakin miskin, Apakah ini termaksud dalam tujuan penyelenggaraan Negara. yaitu Memiskinkan Rakyatnya. Tidakkah Saharusnya mensejahterkan Rakyatnya. Tapi secara tidak langsung tujuan Mensejahterkan Rakyatny telah tercapat, siapa yang sejahtera ya Para Pejabat dan Peyelenggara Pemerinta itu.

Lalu rakyat miskis apa yang akan terjadi, Maka Angka kriminalitas akan meningkat, Kenapa karena banyak masyarakat kehilangan penghasilan, atau tidak tercukupi kebutuhan hidupnya. Akan Sebanyak orang yang Bertindak nekat untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mereka dan Keluarganya. Kriminalitas ini bisa berupa Meningkatnya Angka PSK, Karena tidak punya uang dan tidak punya apapun untuk dijual maka banyak wanita yang menjual diri untuk memenuhi kehidupan mereka, Meningkatnya angka prampokan dan Pencurian, seperti kita ketahui orang lapar akan bertindak nekat. hal ini bisa dilihat dari kenaikan jumlah angka kriminal sebagai berikut:

Jakarta, 31/12/2007 (Kominfo ¨C Newsroom) ¨C Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta mengungkapkan, selama tahun 2007 tercatat terjadi peningkatan angka kriminalitas menjadi sebanyak 60.983 dibanding tahun 2006 yang mencapai 59.376 kasus atau terjadi peningkatan sekitar 2,71 persen
Angka kriminal total tahun 2007 ini meningkat dibanding 2006, yaitu dari 59.376 pada 2006 menjadi 60.983 pada tahun ini (2007) atau meningkat 2,71 persen," kata juru bicara Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Ketut Untung Yoga Ana dalam jumpa pers catatan akhir tahun di Mapolda, Metro Jaya Jakarta, Senin (31/12).

Sesuatu yang unik telah terjadi di Di Indonesia kenaikan harga BBM ini menjadi suatu tradisi, artinya kita akan selalu berhadapan dengan kanaikan harga BBM. Hal ini harus dipikirkan oleh pemimpin-pemimpin yang akan datang minimal bagaimana caranya agar minyak mentah itu nantinya bisa diolah sendiri di dalam negeri sehingga bisa menekan harga BBM, tidak mengikuti harga dunia. Kalau memang harga BBM harus naik, yang paling merasakan dampaknya adalah kelas menengah ke bawah. Sementara kelas atas tidak merasakan secara langsung karena penghasilannya sudah di atas rata-rata. Dengan situasi sekarang saja golongan menegah ke bawah sudah kesulitan untuk mengatur agar bisa berjalan usahanya, baik untuk produksi maupun menggaji karyawan. Bisa dibayangkan kalau harga BBM dinaikkan maka memicu kenaikan harga bahan pokok dan juga bahan produksi.Sebagai rakyat mempertanyakan, ini merupakan suatu kegagalan dalam kabinet SBY karena rakyat perlu sejahtera. Seperti Tujuan penyelenggaraan Negara Mensejahterakan Rakyat.

Akhir kata Sebuah Pertanyaa yang tak pernah terjawab Kenapa kembali rakyat Kecil yang harus menanggung Ongkos Kenaikan BBM yang begitu besar....? Pemerintah Tolong Beri Solusi Yang terbaik Kepada KAmi Rakyat Kecil... Jangan Hanya Kami di manfaatkan saat menjelang kampanye untuk memberi suara, setelah itu kami dilupakan..., Tolong Sejahterakan Kami.

Seorang Rakyat Indonesia

Tuesday, April 29, 2008

Hakikat Kepemimpinan

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya
pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala Keluarga. Di sebuah Negara ada Presidennya. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar.

Dari pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan terhadap "pemimpin" yang mempunyai kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja yang
menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan yang mendalam sbb :

1. Tangung Jawab, Bukan Keistimewaan

Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga
atau institusi, maka ia
sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang
pemimpin yang harus mampu
mempertanggung jawabkannya,.
Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah. Oleh karena itu,
jabatan dalam semua level
atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin
atau pejabat tidak boleh
merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus
diistimewakan dan ia sangat marah bila
orang lain tidak mengistimewakan dirinya.

2. Pengorbanan, Bukan Fasilitas

Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau
kesenangan hidup dengan
berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau
berkorban dan menunjukkan
pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam
kondisi sulit dan sangat sulit.
Karena itu menjadi terasa aneh bila dalam anggaran belanja negara atau
propinsi dan tingkatan yang
dibawahnya terdapat anggaran dalam puluhan bahkan ratusan juta untuk
membeli pakaian bagi para
pejabat, padahal ia sudah mampu membeli pakaian dengan harga yang
mahal sekalipun dengan uangnya
sendiri sebelum ia menjadi pemimpin atau pejabat.

3. Kerja Keras, Bukan Santai.

Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi
dan mengatasi berbagai
persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk
selanjutnya mengarahkan kehidupan
masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta
mencapai kemajuan dan
kesejahteraan.
Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh
kesungguhan dan optimisme.

4. Melayani, Bukan Sewenang-Wenang.

Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi
pemimpin atau pejabat
berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani
masyarakat dengan pelayanan yang
lebih baik dari pemimpin sebelumnya
Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan
terhadap orang-orang yang
dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada
keinginan sedikitpun untuk
membohongin rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama
rakyat atau kepentingan rakyat
padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila
pemimpin seperti ini
terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianatan yang paling
besar.

5. Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor.

Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi
teladan dan pelopor, bukan
malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai
kebenaran dan kebaikan. Ketika
seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya,
maka ia telah menunjukkan
kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi,
maka ia tunjukkan
kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut
adanya pemimpin yang bisa
menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran..

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin. (dari berbagai sumber).

Taken from: M Yunus

Tuesday, April 8, 2008

Cegah Korupsi dengan Menaikan Gaji Aparat, Mungkin Kah?

Membaca informasi di media belakangan ini tentang kenaikan gaji dari aparatur negara untuk mencegah korupsi yang terjadi, saya hanya bisa tersenyum. pertanyaan dalam hati benarkah dengan meningkatkan gaji atau tunjangan dari pejabat bisa meredam atau mencegah korupsi?

Dari pengaamatan saya beberapa tahun belakangan ini tingkat korupsi di indonesia semakin meningkat, malah ada yang melibatkan anggota DPR. orang awam bisa menerka berapa gaji yang diterima anggota DPR, pasti angka yang cukup menabjupkan yang bila di kategorikan adalah penghasilan yang cukup tinggi. tapi apa... ternyata tingkat korupsi di DPR adalah yang terparah, malah melibatkan BI segala. jadi benarkah teori mencegah korupsi dengan cara meningkatkan gaji aparatur negara..?

Ditengah gaji yang diperoleh oleh aparatur negara, dan birokrasi bagai mana kinerja meraka, sudah jadi rahasia umum birokrasi bekerja tidak efisien, ketika saya mengurus di keluran, dibanding saya mengurus sesuai prosedur, dibanding dengan memberi "uang tips" proses pengerjaan malah akan lebih cepat jika kita mengasih uang tips. itu baru tingkat kelurahan, coba kita tengok tingkat depeartment, saya pernah bersama bagaian legal dari perusahaan saya mencoba mengurus pendaftaran kartu garansi untuk suatu produk baru, bagian legal menyerahkan "amplop" untuk orang departmetn perdagangan. dengan alasan mempercepat perijinan.

Mengapa setiap pemberantasan korupsi ditingakat aparat selalu dikaitkan dengan gaji yang minim, kenapa...?, coba pikir kalau alasan gaji minim menjadi alasan mengapa mereka mau masuk PNS yang memang mereka ketahui dengan gaji yang standar. kalau mau gaji besar kenapa meraka tidak bekerja atau berusaha saja. malah kita bisa saksikan berapa juta warga indonesia yang berlomba jadi PNS.

kalangan aparat adalah orang yang beruntung, bila terjadi korupsi selalu mengatakan gaji yang kecil, bagaimana dengan rakyat yang pada umumnya yang berpenghasilan UMR, dengan pendapatn minimal, apakah mereka bisa menuntut kenaikan gaji sesuai dengan aparat. samakan status yang dimiliki. coba bandingkan kerja seorang buruh dengan seorang pejabat. seorang buruh harus bekerja dengan keringat dan tenaga yang maksimal untuk mendapat gaji minimal (UMR), sedang pejabat hanya bekerja minimal menuntut gaji yang maksimal. jadi wajarkah?

Kenapa kalau buruh selalu dikaikan dengan daya saing negara, ketika buruh meminta kenaikan UMR, sungguh berat, dan selalu dikaitkan dengan daya saing negera, dan selalu posisi buruh dalam kondisi lemah. Sedangkan ketika aparat meminta kenaikan adalah wajar. dimana keadilan di negeri ini.

Apakah aparat wajar mempunyai gaji yang besar, dan Buruh wajar mendapat gaji UMR?, padahal untuk kebutuhan hidup saja UMR tidak mencukupi, seharusnya yang wajar mendapat kenaikan gaji adalah buruh yang notabene lebih dari separuh dari jumlah penduduk di Indonesia, dibanding segelintir aparat yang rakus dan tamak dengan penghasilan.

Yang harus dibenahi adalah penegakan hukum yang selama ini hanya menghukum kaum yang bergaji UMR dibanding dengan Aparat, kenapa karena aaprat mempunyai kekuasaan, dan Uang untuk membayar penegak hukum. Contoh kasus di depan mata adalah Jaksa Urip. dan beralasan gaji urip yang sebesar Rp 3.5 tidak sesuai dengan tugas yang diberikan. kalau gitu kenapa mau pak jadi jaksa, cari kerja lain aja.

Waduh Rp 3.5 dibilang tidak sesuai, seperti yang kita ketahui, gaji memang sebesar itu, tapi penghasilannya berapa ya, kan ada berbagai macam tunjangan, atau amplop kanan kiri. jadi penghasilannya berapa ya. Gaji tidak sama dengan penghasilan bukan. Tidak percaya, coba deh liahat kehidupan aparat, dan PNS, yang memiliki rumah dan Kendaraan serta fasilitas hidup yang wah, yang terkadang tidak masuk akal dengan gaji yang dimiliki oleh aparat atau PNs. tapi kita tidak boleh buruk sangka kan, barang kali mereka berbisnis, atau malah dapat warisan dari orang tuanya.

Bandingkan dengan kaum UMR, untuk beli rumah selonjor pun sulit (RSS) saja tidak mampu, apakah terdapat keadilan dengan kaum UMR. Jadi wajarkah Jika mereka korupsi dengan alasan gaji yang kurang. silahkan jawab sendiri. hanya berharap keadilan bisa ditegakan di bumi indonesia. para pejabat coba pikirkan kaum UMR ini, jangan memikirkan diri sendiri lah.

taken. from: Erwin A

Monday, March 31, 2008

Miyabi Effect!


Who's been Googling Maria Ozawa?
Top Hits Viewers based on their cities/locations

MIYABI EFFECT!”


Google Trends show the volume of search in Google for Japanese actress "Maria Ozawa" - famous Porn Star in Asia. Since October 2005 (first video) when she starts to appear the number of search has been increasing dramatically, having a peak in June- August 2006.


She is undoubtedly one of the most googled Japanese actress, surpassing previous J-queen Akira Fubuki. From trends by countries, countries in South-East Asia dominates, and Indonesian is her largest fans. Canada, her former hometown only at the 10th position.


Googling for Miyabi/ Maria Ozawa gives similar results, but earlier rise (August 2005) with a peak in July 2006. Unexplainable peak??

No surprise Fact awarded to : Indonesia Miyabi “Die Hard” Fans!


Based on cities, she is the mosts searched in East Java, Indonesia (Yogyakarta & Surabaya)



First Rank is Yogyakarta !


Congrats! Yogyakarta is undoubtly a legitimate city for Miyabi ‘die hard’ fans! Whatever you say, we are bathing in septic tank together! Merdeka!!!!! (sick!)



data diambil dari : http://miyabi.oz.googlepages.com/

Thursday, March 27, 2008

Capres Cukup Bisa Baca Tulis...

Dua pakar yang didatangkan untuk diminta sumbang saran dalam membahas RUU Pilpres 2009 yang menyatakan tak perlu sarat S1 bagi capres pada Pilpres 2009 nanti, Maswadi Rauf (UI) dan Nanang Pamuji dari Universitas Gajah Mada (UGM) Rabu (26/3) di Komisi II DPR, membuat PKS mengusulkan sarat ekstrim. Capres minimal cukup baca tulis, mampu berhitung, melakukan perkalian saja sehingga sarat pendidikan tak lagi menjadi prasyarat. Awalnya, PKS ngotot capres dan cawapres harus bertitel sarjana.

"Kalau benar sarat S1 tak diperlukan karena dianggap sebagai sarat yang tak relevan dengan posisi peran capres maupun cawapres, maka kami usul ekstrim, sarat capres dan cawapres, cukup mampu baca tulis, berhitung, menambah dan mengurang saja. Dan tidak perlu sama sekali sarat pendidikan. Cara berfikir ini menjadi naif," ujar salah seorang anggota Pansus RUU Pilpres dari Frkasi Partai Keadilan Sejahtera, Al Muzammil Yusuf.

Namun, dirinya berkeyakinan, bila 100 orang SMA dan 100 orang yang lulus perguruan tinggi di tes tentang pemahamannya tentang urusan kenegaraan, maka 100 orang yang lulus dari perguruan tinggi jauh lebih paham soal negara dari pada 100 orang yang hanya lulus SMA.

"Kalau prasarat sarjana hanya ditafsirkan untuk menghalangi capres dan cawapres tertentu, maka jalan tengahnya bisa dilakukan dengan tetap menjaga kualitas bagi capres dan cawapres. Bagi yang pernah mantan, ada pengecualian, tapi bagi yang belum pernah menjadi presiden, harus tetap lulus perguruan tinggi," ujar Muzammil.

Dalam pendapatnya di depan anggota Pansus RUU Pilpres, pengamat politik dari Univeritas Indonesia (UI), Maswadi Rauf menilai sarat S1 bagi seorang capres dan cawapres, tidaklah relevan. Seorang politisi, bisa saja latar belakangnya mantan aktrivis yang tidak dapat menyelesaikan studinya.

"Kualitas politisi tidak mutlak ditentukan pendidikannya, kalau dosen iya, harus sarjana S2 dan teruji memimpin. Sekolah politisi bukan di perguruan tinggi, tapi di organisasi. Dan yang menyatakan dia naik pangkat atau lulus adalah pimpinan partainya. Kalau dipaksa S1, tidak adil bagi para politisi.," kata Maswadi Rauf.

Begitu juga menurut dosen dari Universitas Gajah Mada Nanang Pamudji Muga Sejati (UGM). Dijelaskan, sarat harus lulus S1 bagi capres maupun cawapres, tidak ada hubungannya dengan kualitas pendidikan formal.

"Konstribusi akademis intelektual seseorang terhadap kesuksesan hanya 10 persen. Emosional intelegensi, jauh lebih berharga dari pada minimal SMA, SMP. Sosial inteligence, membangun relasi dan trust dengan parpol dan masyarakat, jauh lebih penting," jelas Nanang.

Al Muzammil Yusuf kemudian memberikan argumentasi kembali. Sarat sarjana bagi seorang capres dan cawapres, tidak lain untuk mendorong minat belajar bagi bangsa Indonesia yang human indeksnya pernah dibawah negara Vietnam, berdasar pendapat bank dunia tahun 2003 lalu.

Dalam RUU Pilpres, perlu dimasukkan aturan debat minimal 3x baik di televisi nasional maupun radio sehingga pengetahuan publik tentang capres dan cawapres bisa mendalam. Paling tidak, publik juga bisa tahu kualitas masing-masing capres dan cawapres pada Pilpres 2009 mendatang," terang Al Muzammil Yusuf. (kompas.com)

Tuesday, March 25, 2008

Menggeser Definisi

Dalam proses perekrutan tenaga kerja, pelamar/pencari kerja selalu diminta mengisi sebuah formulir aplikasi berisi pertanyaan mengenai biodata serta hal lain yang berhubungan tentang diri si pelamar. Dari sejumlah pertanyaan, ada satu pertanyaan yang sering dibiarkan tetap bersih atau tidak diisi oleh pelamar, yaitu: "Sebutkan prestasi yang pernah Anda raih?"

Kalaupun ada yang mengisi, biasanya sangat sedikit prestasi yang pernah diraih, dan kuantitas orang yang mengisi terpaut sangat jauh dengan yang melewatkannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah jumlah orang yang berprestasi memang kenyataannya sangat sedikit? Sungguh sulitkah memperoleh prestasi? Sehingga dalam merekrut tenaga kerja, saya nyaris tidak menemukan calon karyawan yang memiliki banyak prestasi. Ini adalah sebuah korelasi yang aneh, mengingat data yang mereka kirim sebelumnya berupa surat lamaran dengan CV (curriculum vitae) atau resume, berisi banyak prestasi (setidaknya menurut saya).

Setelah melakukan proses interview/wawancara dan isnpeksi yang mendetil, faktanya mereka punya segudang prestasi. Mulai dari keberhasilan mereka menempuh pendidikan formil dengan nilai bagus, menguasai beberapa jenis olahraga, memiliki keterampilan atau keahlian di bidangnya masing-masing, bahkan tidak jarang seseorang memiliki beberapa keterampilan yang pantas dibanggakan. Mereka juga berhasil dalam menjalin hubungan, menikah, memiliki anak, punya rumah, kendaraan bermotor dan banyak lagi sukses yang mereka raih. Lantas mengapa mereka tidak mengisi formulir aplikasi tadi dengan prestasi tersebut? Hal apa yang membuat mereka seperti mengalami krisis kepercayaan diri? Sehingga tidak dapat menghargai apa yang telah diperolehnya. Bagaimana orang lain dapat menghargai mereka, sedangkan mereka tidak dapat menghargai diri sendiri? Lebih-lebih lagi mampu membuat orang lain bangga, jika mereka tidak memiliki rasa kebanggaan akan diri sendiri.
Rupanya hal ini dapat terjadi hanya karena sebuah hal sepele yaitu definisi.

Definisi prestasi
Mereka mendefinisikan prestasi sebagai suatu hasil luar biasa dahsyat yang telah dicapai, sebuah keberhasilan berstandard tinggi yang citranya hanya diperoleh segelintir orang. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, prestasi diasumsikan sebagai kesuksesan dengan ukuran yang dipetakannya sendiri berdasar penilaian luar selingkungannya (eksternal), bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Mereka membuat nilai teramat tinggi dengan memaknai prestasi sebagai barang mewah dimana sedikit orang saja yang sanggup menyandangnya. Sehingga saat perjuangannya tidak berhasil menyentuh ambang batas dari definisi tersebut, akan terjadi agresi yang meluluhkan keyakinannya.

Dari sini dapat muncul beberapa masalah seperti rasa rendah diri (inferior), kurang percaya diri, senang mengkritik hingga terus menyalahkan diri sendiri. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sekalipun, prestasi hanya diartikan sebagai "hasil yang telah dicapai". Dengan kata lain, apapun yang pernah kita ingin raih, baik benda situasi atau kondisi, dan itu berhasil diperoleh, maka dapat dipastikan itu adalah sebuah prestasi.

Prestasi tidak mengandung konotasi negatif, artinya keberhasilan memiliki benda, situasi atau kondisi yang diharapkan adalah semata untuk kebaikan, mengingat semua orang mengharapkan dan berambisi menggapai hal-hal yang baik, meski sedikitnya untuk diri sendiri.

Penulis pernah mewawancarai seorang pelamar yang hanya berpendidikan SLTA (padahal syarat minimal yang dibutuhkan adalah D3/Diploma), Dia mengisi form aplikasi dengan berderet prestasi, yang sekilas adalah hal biasa, seperti : Lulus SD, SMP & SMA, bekerja, membiayai sekolah adik, membantu orang tua dan banyak lagi yang nampaknya kecil tanpa arti. Tapi sungguh luar biasa kepercayaan dirinya dengan melamar posisi jabatan yang notabene mensyaratkan latar belakang pendidikan di atas pendidikan formil yang dimilikinya. Ketika hal tersebut ditanyakan padanya, Ia menjawab:

"Saya memang hanya lulus SMA, tapi saya bangga lulus dari sana. Saya juga bangga dengan pekerjaan administrasi yang saat ini saya geluti, karena saya yakin pekerjaan saya sangat berarti dalam mendukung pekerjaan lain yang ujungnya membantu perusahaan dalam memenuhi tujuannya. Lagipula pekerjaan yang saya jalani dengan sungguh-sungguh, membawa dampak yang sangat berarti bagi perkembangan diri saya. Dengannya (bekerja) saya bisa banyak belajar, saya banyak memperoleh pengetahuan. Dengan bekerja saya dapat bersosialisasi, mengembangkan identitas diri, meningkatkan ketrampilan dan mengabdikan diri. Bekerja saya yakini sebagai cara saya beribadah kepada Tuhan atau ungkapan rasa syukur karena dipercaya melaksanakan sebuah amanah. Dari bekerja saya dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri, membantu orangtua, bahkan saat ini saya dapat membiayai sekolah adik saya. Jadi, karyawan seperti itulah yang akan Bapak (pewawancara/penulis) dapatkan dengan merekrut saya. Namun jika memang pendidikan menjadi syarat mutlak, saya akan menerima penolakan dengan lapang dada. Tidak akan saya merasa rendah diri apalagi menyalahkan orang lain. Bagaimana Pak? Kapan saya bisa bergabung untuk bekerja di perusahaan ini?"

Bagaimana jawaban yang diberikan si pelamar tersebut? Hebat? Meski semua yang dikatakan bukan sekedar hiperbola, tapi menurut saya biasa saja. Yang luar biasa adalah kepercayaan dirinya yang tinggi. Kebanggaannya atas prestasi yang telah dicapai itulah yang membuat saya mengambil keputusan memberinya kesempatan bekerja.

Bila kita cermati, hal pokok yang dimiliki oleh si pelamar adalah tindakan dalam menggeser definisinya terhadap kesuksesan.

Menggeser definisi
Dengan motivasi diri, sikap mental yang sehat ditambah berpikir positif, sah-sah saja bila seseorang menargetkan titik sasaran dengan harapan yang tinggi. Penulis pernah juga melakukan hal tersebut ketika memutuskan untuk menulis.

Bertumpu pada kekaguman atas karya sastra yang dibuat seorang Pramoedya Ananta Toer, maka penulis memutuskan untuk menjadi seorang yang mampu melahirkan tulisan sekelas beliau. Bahwa definisi seorang penulis sukses adalah yang mampu membuat tulisan seperti yang diciptakan Mas Pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer). Setelah membaca begitu banyak buku-buku karyanya, saya mulai berlatih menulis dan terus menulis hingga berbilang tahun. Namun sejalan dengan itu, tak satu-pun tulisan yang saya buat dapat mendekati keindahan warna yang harmonis dari tulisan Mas Pram, apalagi menyamainya. Kegagalan yang terus menerus saya alami, menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri; Apakah saya tidak berbakat menulis? Sedangkan saya memiliki dukungan referensi yang jauh lebih baik dari yang dimiliki Mas Pram. Saya juga menggunakan teknologi dan ketenangan hidup yang jauh lebih baik darinya, mengingat sebagian besar waktu Mas Pram banyak dihabiskan di penjara.

Lantas, apa yang salah? Evaluasi diri secara obyektif sudah saya lakukan, berpikir positif, hingga self affirmation berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri seperti: "Saya pasti bisa!", "Saya pasti berhasil!" dan banyak lagi. Tetap saja tak satu-pun tulisan berhasil saya tetaskan. Puncaknya kegagalan demi kegagalan mampu menggerus kepercayaan diri saya hingga saya mengalami krisis kepercayaan diri. Ujung-ujungnya, saya tidak menghargai segala usaha yang pernah saya lakukan, terlebih lagi, tidak ada kebanggaan.

Untungnya, kegagalan di sini bukanlah kematian. Kegagalan adalah sebuah penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kemudian. Setelah gagal merunut tali-temali proses yang telah dijalani, saya melihat kesalahan justru terjadi pada judul skenario kehidupan yang saya citakan, yaitu definisi penulis sukses. Maka saya menggeser definisi tersebut, bahwa penulis sukses adalah seseorang yang tidak pernah berhenti menulis untuk terus menyumbangkan ide dari pikirannya untuk kemaslahatan dan perbaikan hidup orang lain.

Seseorang tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Tulisan yang saya buat, mungkin tidak berarti sama sekali untuk sekelompok orang, basi buat komunitas lain, tapi untuk segelintir orang yang baru atau terus belajar, tulisan ini memiliki pencerahan tersendiri. Bukankah ilmu itu akan hilang kalau kita tidak mengikatnya dengan tulisan? Meski belum banyak ide dan pemikiran yang saya sumbangkan dalam bentuk tulisan, tapi dengan tulisan yang dibaca banyak orang, saya sudah merasa sukses sebagai penulis dengan definisi yang saya buat, setidaknya membawa ketentraman dan kebahagiaan dalam bathin saya sendiri.

Perasaan ini mendatangkan kebanggaan yang terus memompa semangat untuk melakukan lebih. Tentunya definisi penulis sukses yang saya buat tidaklah statis. Artinya, setelah meraihnya, saya akan kembali menggeser definisi tersebut ke tingkatan di atasnya. Misalnya: Penulis sukses adalah seseorang yang tulisannya telah dibukukan dan didistribusikan ke pembaca. Hal ini memacu saya untuk terus menembus ambang batas definisi.

Persoalan menggeser definisi terhadap sesuatu, juga dapat kita lakukan untuk berbagai hal. Bisa kita lakukan untuk tujuan yang kita kejar, kondisi yang kita alami, suasana hati yang kita rasakan atau segala sesuatu yang kita miliki. Bukankah kata-kata "Kegagalan adalah sukses yang tertunda" adalah sebuah penggeseran definisi? Lihat saja dalam kamus bahasa Indonesia, gagal diartikan sebagai tidak berhasil atau tidak tercapai, yang untuk sebagian orang, gagal berarti kalah; tamat atau akhir.

Ide tulisan ini lahir saat saya ikut terjun dalam kemacetan lalu lintas saat menuju ke kantor. Definisi macet buat saya adalah barisan antrian, dimana dapat saya lalui setelah tiba giliran. Memang kondisi macet tidaklah menyenangkan, tapi apa definisi kita untuk kata "Senang"?

Relatifitas definisi
Telah disinggung pada paragraf di atas mengenai definisi yang sifatnya tidak statis, tidak absolut. Dengan kata lain, definisi yang diberikan seseorang dan didukung orang banyak, bahkan disepakati untuk ditorehkan pada buku atau kamus, bukanlah kebenaran mutlak. Artinya definisi seseorang terhadap sesuatu dapat berbeda dengan definisi orang lain. Hal ini juga menyebabkan perbedaan atas tindakan yang dilakukan.

Oleh karenanya, buatlah sendiri definisi terhadap sesuatu, jangan sekedar menelan mentah-mentah definisi yang dibuat orang lain. Kita memang tidak dapat membuat definisi sesuka hati, lebih-lebih definisi yang kita buat menyalahi makna dari sesuatu yang diartikan. Namun geserlah definisi tersebut. Dengan berpikir positif, kita dapat menggeser sebuah definisi menjadi kata yang mengandung arti positif. Tindakan yang akan dilakukan kemudian, juga adalah perbuatan positif sebagai efek langsung dari positifnya definisi yang dibuat. Tingkatkan kadarnya untuk sebuah keberhasilan yang ditempuh, dengan menggeser kembali definisi pada level di atasnya.

Definisi saya terhadap pembaca adalah: orang yang mau dan terus belajar meningkatkan perkembangan dirinya, juga memberikan pencerahan kepada penulis melalui saran atau kritikannya.

Mari kita mulai memeriksa ketepatan dari definisi terhadap sesuatu. Sudah tepatkah definisi yang ada dengan perasaan, pikiran dan kondisi kita masing-masing.

art. by: Mugi S

Monday, March 24, 2008

Pemimpin Harus Siap Dicerca dan Dicemooh

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dengan memetik teladan Nabi Muhammad SAW, para pemimpin di Tanah Air yang tengah memegang amanah untuk bertanggung jawab saat ini, harus siap menerima sikap yang kurang sabar dari sebagian anggota masyarakat. Sikap kurang sabar itu muncul akibat persoalan-persoalan yang muncul dari masa lalu, masalah yang baru muncul sekarang dan akibat pengaruh dari luar negeri akibat naiknya harga minyak, harga komoditas dan keuangan global.

"Kita juga harus siap menerima sikap kurang sabar dari sebagian saudara kita, dan bahkan barangkali juga cemooh dan cercaan karena semata-semata kita sedang memegang amanah. Itu harus kita terima. Tidak boleh ada kata menyerah dan putus asa. Marilah kita hadapi dan kita jalani dan terus kita bangun negeri tercinta ini untuk menuju hari esok yang lebih baik," ujar Presiden Yudhoyono saat memberikan sambutan di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/3) malam. Hadir dalam acara itu Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta sejumlah undangan di antaranya para duta besar negara-negara sahabat yang ada di Jakarta.

Menurut Presiden, yang dirasakan rakyat sekarang ini disebabkan banyak hal. "Sebagian dari kelanjutan masa.lalu, sebagian masalah yang muncul sekarang ini dan sebagian lagi yang mengalir dari masalah perkembangan dunia sebagai akibat krisis dunia seperti keuangan dan kenaikan hargaaminyak dan harga pangan, sambil kita terus memohon petunjuk dari Allah SWT. Marilah kita bersyukur dan berjuang untuk atasi masalah itu," tambah Presiden.

Pelajaran yang dapat dipetik untuk menjadi bahan refleksi pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, lanjut Presiden adalah sifat beliau yang sabar, tawakal, tetap bersyukur kepada Allah SWT meskipun harus menghadapi tantangan dan ujian apapun. "Juga teladan sikap beliau yang bertanggung jawab, terus berikhtiar dan berusaha keras untuk memecahkan masalah. Berangkat dari dua hal itulah, saya mengajak pemimpin di negeri ini yang saat ini tengah memegang amanah untuk dapat terus mencontoh kepemimpinan Rasululah, Sang Teladan. Marilah, dengan iklas kita tanggung segala ujian dan tantangan, dengan tegar," tambah Presiden Yudhoyono.

Adapun Menteri Agama Maftuh Basyuni menyatakan salah satu kunci sukses kepemimpinan Rasululah adalah kesesuaian antara niat, ucapan dan tindakan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dan mencintai umatnya lebih dari kecintaan kepada dirinya sendiri. "Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai umat dan rakyatnya secara iklas, yang mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan pribadi ataupun kelompoknya," tambah Maftuh.

Rahmatan Lil ' Alamin

Sementara, dalam ceramahnya yang berjudul Maulid Nabi dan Peningkatan Solidaritas Umat Menuju Islam Rahmatan Lil ' Alamin, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo, Semarang Prof Dr H Abdul Djamil, mengajak umat Islam untuk terus meningkatkan keimanan dan KeIslaman serta solidaritas menuju Islam yang Rahmatan Lil' Alamin (menjadi rahmat bagi segala alam semesta).

"Ikon Islam Rahmatan Lil ' Alamin ini menjadi sedemikian strategis ditilik dari perkembangan peradaban dewasa ini, yang di sana sini masih saja ada ketimpangan menyangkut pengentasan kemiskinan, pendidikan, jender, kesehetan, lingkungan, ketidakadilan, kemitraan global dan lain-lain," ujar Abdul Djamil.

kompas.com

Belajar Dari Sebuah Pohon Tua

Alkisah ada seorang anak yang baru lulus dari sekolah hendak pergi ke kota. Tujuan utamanya untuk mencari pekerjaan. Dan tentu saja merubah nasib. Dia hanya seorang anak petani biasa. Setiap hari dia selalu terbiasa dengan hidup yang sangat sederhana. Orang tuanya sudah terlalu tua untuk diandalkan. Akhirnya menjelang kepergiannya ke kota. Dia pun bertemu dengan bapaknya untuk meminta nasehat. ”Bapak, besok subuh anakmu ini mau berangkat mencari kerja ke kota. Kiranya bapak mengizinkan aku untuk pergi”. Bapak itu pun berkata,” Anakku, bapak tidak bisa membekalimu apa-apa? Tapi sebelum engkau pergi. Bapak mau menunjukkan sesuatu kepada kamu.” Si anak pun melihat bapaknya dengan penuh tanda tanya. ”Apakah itu, Bapak?”. Si Bapak tidak menjawab. Dia tersenyum dan berkata,”Mari ikut aku?”. Lalu dia pun berjalan. Diikuti oleh anaknya dari belakang dengan penuh tanda tanya.

Ternyata mereka pergi ke belakang halaman rumah. Disitu ada sebuah pohon tua yang sangat besar. Umurnya mungkin sudah ratusan tahun. Mereka pun sampai. Dan berdiri persis di depan pohon tua tersebut. Si bapakpun berkata,” Anakku coba kau perhatikan pohon tua ini?”. Si anak pun mulai memperhatikan pohon tua itu. Yang bisa dilihatnya hanya sebuah pohon tua tidak mempunyai arti. Batangnya pun sangat sulit dipeluk dengan mengandalkan seorang diri. Butuh tiga sampai lima orang. Pohon ini pun tidak tahu termasuk jenis tanaman apa? Yang dia tahu pohon ini sudah ada sejak dia masih kecil. Bisa jadi sebelum dia lahir. ” Bapak, aku tidak melihat yang istimewa dari pohon ini”. Jawab si anak. Si bapak pun secara perlahan-lahan mulai mendekati pohon itu lebih dekat lagi. Dan tangannya pun menyentuh akar pohon tersebut. Lalu dia pun berkata,” Pohon itu begitu kokoh berdiri sampai dengan sekarang. Padahal kita tidak pernah merawatnya. Diapun tumbuh secara alamiah. Ketika hujan dia pun menjadi basah. Kemaraupun pun dia menjadi kekeringan. Tapi lewat proses kehujanan dan kekeringan membuat dia menjadi kokoh dan kuat.”

Si bapak memandang wajah anaknya dengan penuh arti. Sambil melanjutkan perkataannya,” Setiap kali kamu menghadapi persoalan ketika kamu di kota. Ingatlah pohon ini? Dia bisa melewati semuanya dengan baik. Walaupun kamu mengalami persoalan besar sekalipun. Itu semua menjadikan kamu lebih kuat dan tegar. Tidak terhempas oleh angin yang besar. Andalkan Sang Pencipta untuk membantu hidupmu. Bila engkau hanya mengandalkan dirimu sendiri dan orang lain itu hanya bersifat sementara. Kamu lebih banyak kecewa. Tapi bila engkau mengandalkan Sang Pencipta kamu tidak pernah kecewa.” Si bapak pun mengakhiri percakapan dengan si anaknya. Si anakpun mulai mengerti. Bahwa di kota nanti dia harus siap menghadapi setiap kesulitan. Dan hanya mengandalkan Sang Pencipta dia pasti berhasil meraih impiannya.

Para Veteran yang budiman,
Dalam kehidupan kita zaman sekarang ini. Kita selalu teransang untuk mencapai kesuksesan secara cepat. Istilah kerennya secara instan. Tanpa mau bersusah payah. Padahal kita semua tahu bahwa ada satu hukum alam yang tidak mungkin kita hindari yaitu hukum proses. Coba ingat ketika kita masih bayi. Kita pun mulai dari belajar merangkak. Lewat proses jatuh bangun beberapa kali. Mungkin bisa juga ratusan kali. Kita baru bisa belajar berdiri. Setelah kedua kaki kita kokoh dan kuat. Barulah kita mulai melangkah. Mulai dari satu, dua, tiga sampai proses melangkah lancar. Barulah kita mulai bisa berjalan. Setelah kita lancar berjalan, maka kita berlari, memanjat, melompat dan semua aktivitas lainnya yang bisa kita lakukan. Apakah semuanya secara instan? Jawabnya pasti. Tidak!. Semuanya lewat sebuah proses perjuangan.

Pertanyaan saya, bagaimana supaya kita bisa melewati proses kehidupan ini secara kuat dan kokoh? Tentu saja kita harus siap menghadapi setiap kesulitan yang datang. Bukan menghindarinya. Lihat saja batu karang yang keras. Bisa tembus lewat proses tetesan air secara terus menerus. Dengan diuji membuat mental kita menjadi kuat. Disinilah timbul kekuatan mental kita seperti keberanian, keuletan, kesetiaan, dll. Dan satu lagi yang membuat kita kuat adalah kita harus mempunyai mentor. Orang yang siap memberikan masukan bagi setiap kemajuan kita. Mentor yang paling setia adalah orang tua kita. Merekalah pendorong buat kita lebih maju. Kita pun bisa memilih mentor, orang yang sudah mempunyai prestasi dan reputasi dibidang yang kita geluti. Tidak hanya memberikan kritikan. Tapi dia juga mampu membimbing kita menjadi sukses. Dan tak lupa sang mentor sejati adalah Sang Pencipta sendiri. Kita harus selalu mendengarkan nasehatnya. Melalui doa secara rutin. Tak lupa kita bersyukur atas permberiannya setiap hari.

Monday, March 17, 2008

Selalu Ada Cara Yang Lebih Baik

Dikisahkan ada seorang anak laki-laki yang buta sedang duduk di anak tangga pada sebuah bangunan. Ia memegang sebuah papan tanda yang bertuliskan "Tolong bantu saya, saya buta, tolong bantu saya". Topi yang ia gunakan untuk menerima uang yang diberikan orang yang melewatinya hanya terisi beberapa buah uang recehan saja walaupun ia sudah duduk di sana semenjak pagi hari hingga siang. Lewatlah seorang laki-laki paru baya, ia merogoh kantong bajunya dan memasukkan beberapa uang receh ke dalam topi tersebut.

Setelah itu ia mengambil papan tanda yang digunakan anak laki-laki buta tersebut, memutarnya, dan menuliskan beberapa kata. Kemudian ia memutar kembali papan kecil tersebut ke arah semula sehingga semua orang yang melewati anak laki-laki buta tersebut akan melihat kata-kata yang baru saja ia tuliskan. Topi yang tadinya hanya terisi beberapa uang receh dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama sudah terisi dengan uang receh yang jauh lebih banyak dibandingkan jumlah semula.

Sore itu laki-laki paru baya tadi yang telah merubah papan tanda menghampiri anak laki-laki buta tersebut untuk melihat apa yang terjadi setelah ia menuliskan beberapa kata-kata baru tersebut. Anak laki-laki buta yang dikaruniahi pendengaran yang sangat tajam itu dengan mudahnya dapat mengenali langkah kaki laki-laki paru baya tersebut dan bertanya, "Apakah Anda yang merubah papan tanda saya siang tadi dan apa yang Anda tuliskan?"

Laki-laki paru baya itu menjawab, "Saya hanya menuliskan kebenaran, saya menuliskan apa yang kamu tuliskan tetapi dengan cara yang berbeda." K

ata-kata yang dituliskan oleh laki-laki paru baya itu adalah "Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak dapat melihatnya."

Apakah papan tanda dengan tulisan pertama dan kedua mengatakan hal yang sama? Tentu saja kedua tulisan tersebut memberitahukan bahwa anak laki-laki tersebut buta. Tetapi papan tanda pertama secara gamblang memberitahukan kapada orang-orang untuk membantu memasukkan uang receh ke dalam topi.

Papan tanda kedua memberitahukan orang-orang bahwa mereka bisa menikmati indahnya hari itu tetapi anak laki-laki tersebut tidak dapat menikmatinya karena ia buta. Apakah mengherankan kalau papan tanda dengan tulisan kedua lebih efektif dimana uang receh yang didapatkan lebih banyak dalam waktu yang relative lebih singkat?

Ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa dipetik dari cerita ini, namun izinkan saya untuk membahas hanya satu pelajaran saja yaitu selalu ada cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu.

Mentor saya motivator nomor satu Indonesia, Bapak Andrie Wongso tidak hanti-hentinya mengingatkan banyak orang yang telah mengikuti seminarnya bahwa, "If better is possible good is not enough." Jika yang lebih baik memungkinkan baik saja tidaklah cukup. Kelihatannya pelajaran yang satu ini telah diamalkan oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bina Nusantara Computer Club (BNCC).

Betapa tidak karena UKM BNCC pada tangal 14 Januari 2008 telah meluncurkan majalah FILE yaitu free IT magazine yang dicetak sebanyak 12.000 eksemplar dan dibagikan anggotanya yang berjumlah kurang lebih 700 orang mahasiswa Universitas Bina Nusantara dan kepada umum yang didistribusikan ke beberapa universitas, SMU, café dan restoran, training center, serta beberapa pusat penjualan komputer di Jakarta.

Majalah baru ini diluncurkan sebagai pengganti majalah yang salama ini dijual dengan nama "bitmap" dimana setelah dilakukan evaluasi yang mendalam dengan memperhatikan sumber daya yang ada kelihatannya sangat kecil peluangnya untuk dapat dipertahankan eksistensinya dan bersaing dengan majalah sejenis di masa yang akan datang.

Tidak pernah sekali pun saya mendengarkan pengurus BNCC berkeluh kesah mengenai masalah ini tetapi dengan tenang dan dewasa mereka bersama pembimbingnya dan saya mengevaluasi dan akhirnya memutuskan untuk menghentikan majalah yang lama dan menerbitkan majalah yang baru. Sukses buat Tri Danur Wenda Sukardjo selaku penanggung jawab umum majalah File yang juga ketua BNCC dan Junny Wijaya selaku Pimpinan Redaksi majalah File.

Tidak mengherankan jika Ibu Amylia, Operation Manager of Hong Kong Café memberikan selamat dengan mengatakan "Congratulation for File Magazine. It's a new generation in the Free IT Magazine. Always success and also be a popular magazine."

Demikian juga dengan Bapak Tim Handley, Asia Pacific Sales Manager of Gigabyte yang ikut memberikan selamat dengan mengatakan "Congratulations to File Magazine. I've never seen a free IT Magazine before...and I think this is a very spectacular idea from teenagers like you all." "

Saya mewakili Brothers Indonesia ingin mengucapkan selamat kepada BNCC atas keberhasilannya me-launch majalah Free IT pertama di Indonesia", demikian kata Fredrick Lo, Country Manager Brothers Indonesia. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Pepatah lama ini mengingatkan kita bahwa selalu ada jalan atau cara yang lebih baik yang sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk kita temukan apabila kita mempunyai kemauan untuk menemukannya.

"Anything is possible if you really want to", segala sesuatu mungkin jika Anda betul-betul menginginkannya, demikian ditegaskan oleh Bapak Krishnamurti - mindset motivator yang terkenal di Indonesia. Memang betul ada pepatah yang mengatakan, nasi sudah menjadi bubur yang seolah-olah menyiratkan makna bahwa bahwa kalau nasi sudah menjadi bubur tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengubah bubur tersebut menjadi nasi.

Katakanlah kondisi yang kita hadapi begitu buruknya namun itu tidak berarti kita harus berdiam diri dan pasrah begitu saja. Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. Untuk apa terpaku dengan pepatah lama tersebut. Walaupun kita tidak bisa mengubah bubur menjadi nasi bukankah kita bisa menjadikannya bubur ayam yang nikmat kalau dimakan.

Ibu Rahayu Ratnaningsih dalam bukunya Be Happy While Pursuing Your Dream mengatakan pada saat nasi sudah menjadi bubur, sesungguhnya selalu ada sesuatu yang kita bisa perbuat sehingga bubur tersebut malah lebih sedap dimakan daripada nasinya.

Monday, March 10, 2008

Renungan untuk para suami: Bila Istri Cerewet

Oleh : Ahmad Bustam

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun
terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkanistrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana,ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap
sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul
akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa
yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salahdengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke
depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam,sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa
takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah
berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya.Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh
anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda.Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci makitak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilakuUmar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.